Beberapa
Masalah yang
Dialami oleh Sektor Pertanian di
Indonesia
oleh Anila
Indrianti A.
Fakultas Pertanian UGM
Pendahuluan
Pertanian merupakan
bagian yang sangat penting bagi manusia. Hampir semua kebutuhan primer manusia
berasal dari sektor pertanian. Hingga saat ini, pertanian masih dinilai sebagai
sektor penggerak perekonomian Indonesia yang penting dan terbukti memiliki
ketahanan yang paling tinggi pada saat terjadi dan pasca periode krisis ekonomi
maupun krisis moneter sejak awal 1997. Kemudian ketangguhan sektor pertanian
sebagai pondasi pembangunan ekonomi suatu negara juga telah dibuktikan oleh negara
tetangga seperti Thailand (Said, 1999). Sektor pertanian sendiri merupakan
sektor yang mempunyai peranan strategis di negara agraris seperti Indonesia.
Peranannya antara lain sebagai kekuatan untuk membangun perekonomian nasional,
sebagai penampung luapan tenaga kerja, dan sebagai pemenuh kebutuhan pokok di
Indonesia (Ikhwan, 2014). Namun, nasib sektor ini masih saja tak menentu. Walaupun
pemerintah kerap kali mengklaim telah memberikan perhatian khusus terhadap
sektor pertanian, namun masih saja pertanian di Indonesia belum menemui titik
sejahtera berkelanjutan. Bahkan, sekarang malah makin banyak permasalahan yang
menghantam sektor pertanian.
Pembahasan
Sektor pertanian di Indonesia sangatlah penting dari keseluruhan sektor
dalam pembangunan nasional. Ada beberapa hal yang membuat sektor pertanian di
Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi sumber daya alam yang
besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya
bagian dalam ekspor dan impor nasional, banyaknya penduduk Indonesia yang
menggantungkan hidupnya pada sektor ini, peranannya dalam penyediaan pangan
masyarakat, dan merupakan basis pertumbuhan di pedesaan (Ikhwan, 2014).
Dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya
pada pendapatan nasional, pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini
masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini mengindikasikan bahwa
pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga sektor pertanian
keseluruhan.
Beberapa
tahun yang lalu, petani Indonesia dihadapkan dengan berbagai keadaan seperti
kekeringan, serangan hama, bencana alam, dan sebagainya. Baru saja petani dapat
bernafas lega dengan pengadaan teknologi pertanian, pengembangan pertanian dan
pembangunan infrastruktur pendukung pertanian seperti waduk dan sistem irigasi,
namun malah dihantam lagi dengan kurangnya pengetahuan untuk
mengoperasikan teknologi pertanian yang baru, naiknya harga BBM, pencabutan subsidi kebutuhan rumah tangga, impor
bahan pangan, cuaca tak menentu, dan bencana alam. Bahkan keadaan tersebut ada
yang masih berlanjut sampai sekarang.
Sangat ironis memang, sebagai negara agraris dan
negara maritim yang berkelimpahan sumber daya alam, Indonesia masih bergantung
pada pertanian negara lain melalui impor. Apa-apa diimpor, beras diimpor,
bahkan sekedar garam pun, pemerintah mengadakan impor. Hingga banyak petani
makin miskin dan banyak usia produktif meninggalkan pertanian. Kondisi tersebut
memang dikarenakan Indonesia berpotensi terkena dampak bencana alam, dan
penurunan kualitas produk pertanian dalam negeri. Namun bila dilihat dari aspek
kebijakan pemerintah, kebijakan pemerintah nyatanya banyak yang kurang
pro-petani dengan terburu pengadaan impor, sedangkan keadaan pertanian di
Indonesia belum dibenahi dengan baik. Kemudian, aspek program pemerintah
seperti pembangunan infrastrukstur pertanian seperti waduk dan irigasi pun
banyak yang kurang berfungsi bahkan rusak, dan target komoditas di sektor
pertanian tidak pernah tercapai.
Di samping berbagai
permasalahan di atas, terdapat pula berbagai kendala yang terjadi langsung di
lapangan, seperti petani sekarang kurang
lahan untuk digarap. Walaupun katanya orang
terkaya di Indonesia adalah sesorang yang mempunyai usaha di bidang pertanian,
namun masih banyak petani miskin yang kurang lahan garapan yang tersebar di
seluruh pelosok di Indonesia. Hal ini dikarenakan kebanyakan petani yang turun
ke lahan hanyalah seorang buruh petani yang bekerja untuk orang lain. Lahan
yang tersedia tidak dapat sepenuhnya digarap, dan upahnya pun ditentukan oleh
orang lain. Apalagi seorang buruh tani yang biasanya hanya mendapatkan
sebagian yang bisa dibilang pas-pasan dan kurang sesuai dengan banyaknya tenaga
yang dikeluarkan.
Kemudian, petani sekarang juga terkendala tenaga
yang tidak memadahi. Hal ini
karena mayoritas petani adalah orang-orang lanjut usia. Bisa kita lihat di sawah setiap hari, yang menanam padi
adalah orang-orang tua, yang menjaga padi adalah orang-orang tua, yang memanen
padi adalah orang-orang tua, hingga yang mengolah hasil padi pun orang-orang
tua. Padahal harus diakui bahwa lambat laun mereka semua akan pensiun dari
dunia pertanian karena raga yang tua renta dan tak kuat lagi untuk turun ke
sawah. Jika tidak ada penerus, bisa-bisa pertanian di Indonesia semakin
mengalami kemunduran.
Berkaitan dengan masalah di atas, menurut kebanyakan
survei, sekarang ini memang banyak
anak muda yang sulit diajak untuk bertani. Kebanyakan mereka beranggapan bahwa profesi petani adalah profesi kelas
bawah, dan tidak keren sama sekali untuk dijalani. Pun mereka menganggap
bahwa petani bukanlah suatu pekerjaan pilihan, melainkan jalan terakhir saat mereka semua tidak mendapatkan pekerjaan yang
lain. Kenyataan
pun kian membuktikan kebenaran anggapan mereka dengan upah petani yang tidak
sebesar gaji profesi lain, makin menurunnya kesejahteraan para petani, dan
sulitnya hidup menjadi seorang petani. Mereka seperti mengesampingkan
pertanian, dan lebih memilih menjadi buruh di pabrik-pabrik dari pada harus
turun ke lahan.
Kondisi
geografis yang kurang baik, seperti lahan miring, lumpur dalam, kurang air, dan bencana alam,
juga makin memperburuk keadaan pertanian di Indonesia. Apalagi para petani juga masih kurang pengetahuan
untuk mengatasi keadaan tersebut. Meskipun ada bantuan dari pemerintah untuk membagun infrastruktur pertanian
seperti waduk dan sistem irigasi, namun hal tersebut masih terkendala pada fungsinya
yang kurang optimal, rusaknya peralatan karena kurang perawatan, dan parahnya
lagi adalah adanya kebocoran dana dalam pendistribusian bantuan dari pemerintah
kepada petani yang di sebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pun ketika panen raya, banyak petani yang mengeluhkan kebijakan harga dari
pemerintah yang membuat harga beras makin jatuh. Dalam hal ini, ketika petani
tidak punya mata pencaharian lain, saat harga beras terjun bebas pun petani tetap menjual hasil tani dengan
pasrah untuk membiayai kehidupannya,
walaupun secara kasat mata sudah dapat
dilihat bahwa penghasilan mereka tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Dari berbagai permasalahan di atas, tentunya sangat diharapkan
adanya upaya dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi hal tersebut demi
kebangkitan sektor pertanian di Indonesia. Beberapa hal yang dapat dilakukan
untuk membangkitkat sektor pertanian di Indonesia antara lain: mengembangkan
pertanian yang modern dan canggih, inovasi pertanian
mengenai bertani tidak harus selalu menanam padi, peninjauan dan pembenahan bantuan infrastruktur
pertanian dari pemerintah ke petani, dan adanya kebijakan
harga komoditas pertanian yang stabil dan sesuai dengan jerih payah para
petani. Selain itu, diperlukan adanya
pelatihan dan pembekalan untuk para petani agar mempunyai pengetahuan untuk
mengoperasikan berbagai alat pertanian, memprediksi pasar, mengelola lahan, dan
sebagainya. Kemudian pemerintah juga
perlu menaikkan kesejahteraan para petani, agar generasi
muda tertarik berkecimpung dalam sektor
pertanian dan tidak malu menjadi petani.
Penutup
Kesimpulan
Sektor
pertanian merupakan sektor yang mempunyai peran strategis dalam sistem
perekonomian Indonesia. Hampir semua kebutuhan
primer manusia berasal dari sektor pertanian. Namun dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada
pendapatan nasional, pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih
belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal. Selain itu terdapat beberapa
masalah yang mendera sektor pertanian seperti banyak impor bahan pangan, petani
kurang lahan, kendala tenaga dalam menggarap lahan, kurang minatnya anak muda
dalam sektor pertanian, kondisi geografis yang kurang memadahi, kebijakan harga
pangan yang tidak stabil, dan fungsi infrastruktur pertanian yang kurang
optimum.
Berbagai
permasalahan di atas bisa teratasi dengan adanya pengembangan teknologi
pertanian, pembekalan petani, kebijakan harga pangan yang stabil, peninjauan
bantuan infrastruktur pertanian, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Saran
Penulis
menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan artikel tentang isu pertanian
ini, untuk itu penulis mengarapkan adanya saran yang membangun supaya penulis
dapat lebih baik lagi kedepannya. Penulis juga mengharapkan adanya
penulis-penulis lain yang dapat mengembangkan artikel tentang isu pertanian
sehingga menjadi literatur yang lebih baik dan lengkap.
Daftar
Pustaka
Said, E. G. 1999. Belajar
bangkit dari Thailand. Makalah disampaikan dalam diskusi Tim
Reformasi Pembangunan Pertanian, 5 –8 Oktober 1999 di Semarang.
Ikhwan, R. K. 2014. Resolusi Cinta untuk Pertanian Indonesia. Surakarta. BEM FP UNS
2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar