Minggu, 20 Oktober 2019

Beberapa Masalah yang Dialami oleh Sektor Pertanian di Indonesia


Beberapa Masalah yang Dialami oleh Sektor Pertanian di Indonesia
oleh Anila Indrianti A.
Fakultas Pertanian UGM
Pendahuluan
            Pertanian merupakan bagian yang sangat penting bagi manusia. Hampir semua kebutuhan primer manusia berasal dari sektor pertanian. Hingga saat ini, pertanian masih dinilai sebagai sektor penggerak perekonomian Indonesia yang penting dan terbukti memiliki ketahanan yang paling tinggi pada saat terjadi dan pasca periode krisis ekonomi maupun krisis moneter sejak awal 1997. Kemudian ketangguhan sektor pertanian sebagai pondasi pembangunan ekonomi suatu negara juga telah dibuktikan oleh negara tetangga seperti Thailand (Said, 1999). Sektor pertanian sendiri merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis di negara agraris seperti Indonesia. Peranannya antara lain sebagai kekuatan untuk membangun perekonomian nasional, sebagai penampung luapan tenaga kerja, dan sebagai pemenuh kebutuhan pokok di Indonesia (Ikhwan, 2014). Namun, nasib sektor ini masih saja tak menentu. Walaupun pemerintah kerap kali mengklaim telah memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian, namun masih saja pertanian di Indonesia belum menemui titik sejahtera berkelanjutan. Bahkan, sekarang malah makin banyak permasalahan yang menghantam sektor pertanian.
Pembahasan
            Sektor pertanian di Indonesia sangatlah penting dari keseluruhan sektor dalam pembangunan nasional. Ada beberapa hal yang membuat sektor pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya bagian dalam ekspor dan impor nasional, banyaknya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, peranannya dalam penyediaan pangan masyarakat, dan merupakan basis pertumbuhan di pedesaan (Ikhwan, 2014).
Dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional, pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga sektor pertanian keseluruhan.
            Beberapa tahun yang lalu, petani Indonesia dihadapkan dengan berbagai keadaan seperti kekeringan, serangan hama, bencana alam, dan sebagainya. Baru saja petani dapat bernafas lega dengan pengadaan teknologi pertanian, pengembangan pertanian dan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian seperti waduk dan sistem irigasi, namun malah dihantam lagi dengan kurangnya pengetahuan untuk mengoperasikan teknologi pertanian yang baru, naiknya harga BBM, pencabutan subsidi kebutuhan rumah tangga, impor bahan pangan, cuaca tak menentu, dan bencana alam. Bahkan keadaan tersebut ada yang masih berlanjut sampai sekarang.
Sangat ironis memang, sebagai negara agraris dan negara maritim yang berkelimpahan sumber daya alam, Indonesia masih bergantung pada pertanian negara lain melalui impor. Apa-apa diimpor, beras diimpor, bahkan sekedar garam pun, pemerintah mengadakan impor. Hingga banyak petani makin miskin dan banyak usia produktif meninggalkan pertanian. Kondisi tersebut memang dikarenakan Indonesia berpotensi terkena dampak bencana alam, dan penurunan kualitas produk pertanian dalam negeri. Namun bila dilihat dari aspek kebijakan pemerintah, kebijakan pemerintah nyatanya banyak yang kurang pro-petani dengan terburu pengadaan impor, sedangkan keadaan pertanian di Indonesia belum dibenahi dengan baik. Kemudian, aspek program pemerintah seperti pembangunan infrastrukstur pertanian seperti waduk dan irigasi pun banyak yang kurang berfungsi bahkan rusak, dan target komoditas di sektor pertanian tidak pernah tercapai.
Di samping berbagai permasalahan di atas, terdapat pula berbagai kendala yang terjadi langsung di lapangan, seperti petani sekarang kurang lahan untuk digarap. Walaupun katanya orang terkaya di Indonesia adalah sesorang yang mempunyai usaha di bidang pertanian, namun masih banyak petani miskin yang kurang lahan garapan yang tersebar di seluruh pelosok di Indonesia. Hal ini dikarenakan kebanyakan petani yang turun ke lahan hanyalah seorang buruh petani yang bekerja untuk orang lain. Lahan yang tersedia tidak dapat sepenuhnya digarap, dan upahnya pun ditentukan oleh orang lain. Apalagi seorang buruh tani yang biasanya hanya mendapatkan sebagian yang bisa dibilang pas-pasan dan kurang sesuai dengan banyaknya tenaga yang dikeluarkan.
Kemudian, petani sekarang juga terkendala tenaga yang tidak memadahi. Hal ini karena mayoritas petani adalah orang-orang lanjut usia. Bisa kita lihat di sawah setiap hari, yang menanam padi adalah orang-orang tua, yang menjaga padi adalah orang-orang tua, yang memanen padi adalah orang-orang tua, hingga yang mengolah hasil padi pun orang-orang tua. Padahal harus diakui bahwa lambat laun mereka semua akan pensiun dari dunia pertanian karena raga yang tua renta dan tak kuat lagi untuk turun ke sawah. Jika tidak ada penerus, bisa-bisa pertanian di Indonesia semakin mengalami kemunduran.
Berkaitan dengan masalah di atas, menurut kebanyakan survei, sekarang ini memang banyak anak muda yang sulit diajak untuk bertani. Kebanyakan mereka beranggapan bahwa profesi petani adalah profesi kelas bawah, dan tidak keren sama sekali untuk dijalani. Pun mereka menganggap bahwa petani bukanlah suatu pekerjaan pilihan, melainkan jalan terakhir saat mereka semua tidak mendapatkan pekerjaan yang lain. Kenyataan pun kian membuktikan kebenaran anggapan mereka dengan upah petani yang tidak sebesar gaji profesi lain, makin menurunnya kesejahteraan para petani, dan sulitnya hidup menjadi seorang petani. Mereka seperti mengesampingkan pertanian, dan lebih memilih menjadi buruh di pabrik-pabrik dari pada harus turun ke lahan.
Kondisi geografis yang kurang baik, seperti lahan miring, lumpur dalam, kurang air, dan bencana alam, juga makin memperburuk keadaan pertanian di Indonesia. Apalagi para petani juga masih kurang pengetahuan untuk mengatasi keadaan tersebut. Meskipun ada bantuan dari pemerintah untuk membagun infrastruktur pertanian seperti waduk dan sistem irigasi, namun hal tersebut masih terkendala pada fungsinya yang kurang optimal, rusaknya peralatan karena kurang perawatan, dan parahnya lagi adalah adanya kebocoran dana dalam pendistribusian bantuan dari pemerintah kepada petani yang di sebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pun ketika panen raya, banyak petani yang mengeluhkan kebijakan harga dari pemerintah yang membuat harga beras makin jatuh. Dalam hal ini, ketika petani tidak punya mata pencaharian lain, saat harga beras terjun bebas pun petani tetap menjual hasil tani dengan pasrah untuk membiayai kehidupannya, walaupun secara kasat mata sudah dapat dilihat bahwa penghasilan mereka tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Dari berbagai permasalahan di atas, tentunya sangat diharapkan adanya upaya dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi hal tersebut demi kebangkitan sektor pertanian di Indonesia. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangkitkat sektor pertanian di Indonesia antara lain: mengembangkan pertanian yang modern dan canggih, inovasi pertanian mengenai bertani tidak harus selalu menanam padi, peninjauan dan pembenahan bantuan infrastruktur pertanian dari pemerintah ke petani, dan adanya kebijakan harga komoditas pertanian yang stabil dan sesuai dengan jerih payah para petani. Selain itu, diperlukan adanya pelatihan dan pembekalan untuk para petani agar mempunyai pengetahuan untuk mengoperasikan berbagai alat pertanian, memprediksi pasar, mengelola lahan, dan sebagainya. Kemudian pemerintah juga perlu menaikkan kesejahteraan para petani, agar generasi muda tertarik berkecimpung dalam sektor pertanian dan tidak malu menjadi petani.
Penutup
Kesimpulan
            Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peran strategis dalam sistem perekonomian Indonesia. Hampir semua kebutuhan primer manusia berasal dari sektor pertanian. Namun dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional, pembangunan pertanian di Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal. Selain itu terdapat beberapa masalah yang mendera sektor pertanian seperti banyak impor bahan pangan, petani kurang lahan, kendala tenaga dalam menggarap lahan, kurang minatnya anak muda dalam sektor pertanian, kondisi geografis yang kurang memadahi, kebijakan harga pangan yang tidak stabil, dan fungsi infrastruktur pertanian yang kurang optimum.
            Berbagai permasalahan di atas bisa teratasi dengan adanya pengembangan teknologi pertanian, pembekalan petani, kebijakan harga pangan yang stabil, peninjauan bantuan infrastruktur pertanian, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Saran
            Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penulisan artikel tentang isu pertanian ini, untuk itu penulis mengarapkan adanya saran yang membangun supaya penulis dapat lebih baik lagi kedepannya. Penulis juga mengharapkan adanya penulis-penulis lain yang dapat mengembangkan artikel tentang isu pertanian sehingga menjadi literatur yang lebih baik dan lengkap.
Daftar Pustaka
Said, E. G. 1999. Belajar bangkit dari Thailand. Makalah disampaikan                              dalam diskusi Tim Reformasi Pembangunan Pertanian, 5 –8 Oktober 1999 di Semarang.
Ikhwan, R. K. 2014. Resolusi Cinta untuk Pertanian Indonesia. Surakarta.                         BEM FP UNS 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar