SENSING CULTURE
catatan si pelupa
Ada sebuah status dari seorang kakak di Keluarga Mahasiswa Muslim Fakultas yang menarik bagiku. Judulnya "Sensing Culture". Statusnya dibuat berdasarkan keikutsertaannya dalam Kajian Umum Psikologi Islam di kampus. Sekitar seminggu sebelum masuk kuliah semester 2.
Isinya kurang lebih begini...
Sensing culture sepertinya merupakan turunan dari Ghazwl Fikr (Perang Pemikiran) ketika semua sisi kehidupan seolah diceraikan dari agama. Imbasnya ialah menjadikan muslim seperti buih-buih dilautan. Yaitu yang kuantitasnya sangat banyak, namun kualitasnya malah sangat lemah.
Sederhananya, coba tengok diri sendiri,
Apakah lebih suka baca Al Quran, belajar, baca buku, atau berselancar di sosmed tanpa faidah yang berarti?
Nah, dalam sensing culture, zaman ini disetting seolah menghabiskan waktu bersama Al Quran, buku, dan yang lainnya itu adalah hal yang aneh.
Teringat perkataan seorang liberal, bahwa untuk mengalahkan muslimin bukan dengan perang senjata, tapi dengan menjauhkan Al Quran dari kita.
Ngeri kan?
Selanjutnya, tentang sensing culture di kehidupan kampus...
Ketika 4 tahun kuliah dihabiskan untuk mengejar IPK atau lulus cepat dengan "menghalalkan segala cara".
Curigalah kamu bukan generasi yang bermanfaat bagi orang tua, agama, bangsa dan negara seperti yang diharapkan ketika kelahiranmu.
Ketika IPK dan lulus cepat menjadi pendewaan dalam semua aktivitasmu,
sunnah jarang dikerjakan atau malah tidak pernah, bahkan sampai tega banget meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim.
Terang-terangan anti ngaji, anti dakwah, dan melakukan tasyabbuh dengan dalih toleransi.
Buku kuliah pun sampai lusuh,
tapi eh Al Quran nya dipajang aja, jarang dibuka, bahkan tak tersentuh.
Sebenarnya, untuk apa sih nilai di atas kertas, kalau kita lupa hakikat seorang muslim, bahkan sama sekali tidak punya nilai sebagai seorang hamba yang punya Tuhan?
Curigalah
Curigalah kalau ilmumu tidak akan menyelamatkanmu.
Curigalah
Curigalah kalau ilmumu tidak akan menyelamatkanmu,
Jangankan di akhirat, di dunia pun mungkin tidak ~
Jika kau merasa terselamatkan, padahal kewajibanmu sebagai seorang hamba sering terbengkalai,
Curigalah kalau kalau nikmatmu dipercepat dan siksamu ditangguhkan sampai ke akhirat.
Hmm...
Tentang sensing culture dalam diri,
Teringat sebelum ini ku selalu paranoid terhadap tugas-tugas kampus.
Paranoid kalau nggak dapet dosen sesuai keinginan, paranoid kalo harus rebutan kelas, paranoid kalo cuma dapet nilai standar, paranoid karena jalanan macet, dan sebagainya...
Dengan tidak menyepelekan, padahal itu cuma urusan dunia yang sepele kan?
Yang kalau tak sesuai perencanaan pun, nggak bakal bikin mati kalau belum waktunya mati...
Sedangkan, pas ada kajian malah ngeluh kalau timingnya ngurangi waktu untuk ngerjain tugas kampus. Ngaji aja diskip demi ngerjain tugas kampus. Dan sebagainya demi tugas kampus...
Persiapan akhiratnya kapan?
Mengerikan sekali jika harga diri sebatas secarik kertas dan harga akhirat ditawar-tawar...
Bukankah dunia ini hanya kenikmatan layaknya setetes air?
Yang seharusnya tidak membuat bangga karena mendapat setetes, dan tidak membuat sedih karena tidak mendapat setetes...
Dan aku pun tertampar...
Hidup ini sudah terlalu sering dibanding, ditimbang, dan dihitung.
Sedangkan ibadah sendiri sering luput dari rasa takut tidak diterima. Seentengkah itu urusan akhirat?
Sudah yakin kalau dapat surga?
Allahu yahdiik...
-Nyadarin diri
13 Februari 2019 (14.32)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar