Sabtu, 17 Oktober 2015

Catatan Hari Sabtu



Saturday
Oleh : Anila

Saturday… adalah waktu bagi teman-temanku untuk berkumpul bersama teman lainnya. Waktu bagi kebanyakan orang untuk berjalan-jalan bersama sanak saudara, dan saling bertukar canda. Sedangkan aku tak melakukan semua hal itu. Kuhabiskan Sabtu untuk sekedar memiliki pengalaman berharga, karena semua Sabtu adalah hari terbesarku.

            Hari yang selalu menjadi sejarah bagiku. Sejarah terpenting di hidupku. Waktu untukku berbahagia dan tertawa, yang sekaligus bisa membuatku bersedih dan menumpahkan air mata. 

Sabtu, 18 April 2015, Panca Lomba bidang Siswa Berprestasi, kategori Putri. FIGHTING!! Pagiku sudah terburu-buru. Seperti biasa, tak ada yang mengantarku berangkat ke sekolah. Kakiku melangkah cepat di bawah sinar fajar yang sudah tinggi. Aku bersusah payah menggendong tas yang berisi sebuah laptop dan penuh akan buku. Sialnya aku harus berlarian membawa beban berat untuk mengejar bus. Padahal aku sudah menyetopnya, namun bus itu terus berjalan. Yipp!! Aku berhasil masuk ke dalamnya.

Sesampainya di sekolah, ku sapa temanku dengan senyuman. Berharap hari ini menyenangkan walaupun dengan pagi yang menyebalkan. Keringatku bercucuran, dan aku pun harus membeli dua bungkus tisu untuk menyekanya. Firasatku yang tidak enak mulai bermunculan. Perasaan takut akan kegagalan dan kehilangan. Tapi selalu ku coba untuk percaya diri di samping dukungan orang-orang di sekitarku. Setidaknya aku telah berusaha dan berdoa semampuku.

~+~

Di bangunan baru SMP tempatku berkompetisi terasa gersang, hawa panas menyengat hebat. Aku dan Arya belajar menyanyikan lagu-lagu wajib untuk persiapan bila nanti diminta bernyanyi. Sedangkan temanku yang lainnya sibuk membolak-balikkan buku pelajaran. Pukul 08.30, kami diminta berkumpul di lapangan, aku pun harus berdiri di bawah terik matahari bersama seluruh rivalku. Upacara pembukaan yang lumayan lama membuat diriku menjadi cacing kepanasan. Namun sebelum itu terjadi, upacaranya sudah selesai.

Aku memasuki ruangan lomba dengan penuh harapan menjadi seorang pemenang. Jantungku tak henti berdebar kencang, meskipun ku coba untuk tenang. Ku lihat siswi-siswi yang menjadi sainganku di ruang itu. Dan ternyata rival terberatku juga ada di situ. Aku hanya datang, duduk, dan diam. Agak sungkan bagiku untuk berkenalan dengan teman sebangku. Kuselipkan doa di setiap gerak-gerikku, agar dapat memperbaiki moodku.

Ibu Panitia memberikan pengarahan kepada kami. Tentu saja kami mendengarkan dengan sebaik mungkin. Kemudian, beliau mulai membagikan soal, aku penasaran pada soal yang akan ku dapatkan. Ku pahami perintahnya, dan waktu pengerjaan di mulai. Teng! Teng!! Ku kerjakan soal di hadapanku dengan hati-hati. Membaca soal hingga aku tahu maksudnya, lalu menyilang abjad di lembar jawab yang tersedia. Semua soal itu meyakinkan diriku bisa menjawabnya. OPTIMIS!!

Tahap pertama telah rampung, kini giliran tahapan kedua yang menguji kemampuanku dalam teknologi informasi dan komunikasi. Ku buat tabel dengan teliti, sebab kesalahan sedikit saja dapat berakibat fatal. Aku mengoperasikan laptop itu dengan sebaik-baiknya. Beruntung tak ada trouble yang menghadangku seperti peserta lain yang tiba-tiba PC-nya mati karena kehabisan energi.

~+~

Waktu istirahat ini kugunakan untuk memperkirakan pertanyaan yang muncul pada saat tes wawancara, juga untuk menyiapkan jawabannya. Aku sempat menunda makan siang karena terlalu nervous menunggu stage ke tiga. Bahkan debaran jantungku lebih kencang dari sebelumnya.

Kami para peserta lomba siswa berprestasi harus kembali memasuki ruang lomba karena waktu istirahat telah selesai. Saat aku kembali lagi ke ruanganku, ku dapati penilaiannya belum selesai. Aku mengintip sedikit saat pekerjaanku dinilai. YESS!! Nilai sempurna!

Seorang bapak calon pewawancara masuk ke ruangan dan memberikan beberapa penjelasan. Wawancara dilakukan satu persatu secara bergantian, dan peserta lain harus menunggu giliran di luar. Karena menunggu terlalu lama, kuputuskan untuk mencari teman bicara. Teman baru yang kudapatkan, karena teman sekolahku sibuk dengan urusan masing-masing. Dia bernomor urut SBPI-022, sedangkan aku SBPI-023, itu berarti aku akan diwawancarai setelah dirinya. Kami membicarakan banyak hal seputar sekolah.

Saat giliran teman baruku itu, aku menunggu di luar sambil diberi support oleh teman-temanku dan guru pendampingku. Aku menjadi lebih percaya diri dan lebih tenang.  Tibalah aku memasuki ruangan dengan mantap, tak lupa aku menyalami juri. Aku duduk dan mendengarkan setiap pertanyaan yang beliau lontarkan, kemudian ku jawab dengan sejujurnya dan penuh yakin. Komentar juri membuatku semakin mantap untuk menjadi sang juara. Impianku akan segera terwujud.

~+~

Aku dan peserta lain menunggu pengumuman sampai sore hari. Aku dan teman-temanku menghabiskan waktu untuk bercanda ria, berfoto bersama, dan tak lupa berdoa agar mendapat hasil yang memuaskan. Selang beberapa saat kemudian, lima temanku yang lain pulang bersama beberapa guru pendamping. Kini tersisa kami berlima, yaitu aku, Arya, Indah, Ana, dan Maya.

Langit senja berbalut awan mendung menjadi pemandangan yang agak asing di tempat itu. Angin dingin mulai berhembus, dan inilah saatnya pengumuman hasil lomba. Nama peserta calon juara disebutkan satu persatu, dan ternyata nama kami berlima ada di dalamnya. Sungguh peluang besar yang membahagiakan. Namun ada sebuah bisikan kecil yang menyatakan bahwa aku hanya berada di posisi ke lima. Hal itu berhasil melunturkan senyumku dan mematahkan semangatku.

Kami semua diminta untuk menuju ke lapangan. Mengikuti upacara seperti tadi pagi, dengan suasana yang berbeda. Dari pagi yang ramai dan panas, berubah menjadi sore yang sepi dan dingin.

Jiwaku dingin, hatiku mengeras saat mengetahui aku benar-benar berada di posisi ke lima. Sedangkan Arya adalah juara pertama, lomba Siswa Berprestasi Putra. Indah adalah juara ke dua, lomba Rumpun Bahasa. Ana adalah juara ke dua, lomba Rumpun MIPA. Dan Maya adalah juara ke tiga, lomba Problem Solving Contest. Sedangkan aku? “Payah… harapan lagi,” gerutuku dalam kesepian.

Aku sendirian, memeluk angin dingin yang sesungguhnya tak bisa kupeluk. Berpayung awan mendung bersama semua kepedihanku. Aku membisu seperti batu, mencoba menahan air mata. Aku kecewa, benar-benar kecewa. Tak ada yang peduli dengan diriku, bahkan hidupku pun tak berpihak kepadaku.

Saat mereka telah selesai mengabadikan momen-momen itu, kami semua bubar. Keberhasilan keempat temanku disambut ceria oleh guru-guru pendamping. Tak ada yang memperhatikanku, aku berjalan sendiri melawan terpaan angin yang berhembus dingin. Dingin, hanya itu yang kurasakan.

Setelah mereka melihatku berjalan kearahnya, mereka baru ingat ada aku di sini. Terlalu larut dalam gelimangan kebahagiaan, mereka melupakan aku yang berlinang air mata kekecewaan. Air mataku tumpah, mereka semua menyemangatiku agar aku tak berputus asa. TERLAMBAT!! Air mataku telah menetes, dan tak mungkin bisa kembali lagi. Aku tak berhenti menangis dalam diam.

Saat di rumah makan untuk makan malam, mereka sibuk membicarakan kemenangannya. Aku hanya diam dan melahap makananku dengan tak bernafsu. “Udahlah, kamu jangan sedih. Ini malam minggu kan? Pasti nanti diajak keluargamu jalan-jalan. Lagi pula, juara harapan dua itu sudah baik kok,” Maya yang berada di sebelahku mencoba menghiburku. Huh!! Malam minggu pun aku tak akan ke mana-mana. Keluargaku jarang mengajakku jalan-jalan.

Aku hanya mendiamkan siapa pun yang menghiburku. Tak ada kata yang perlu kuucapkan. Selama perjalanan pulang, aku hanya mengotak-atik handphoneku untuk menghubungi orang tuaku agar segera menjemputku. Seseorang bertanya akan kabar selama lomba dengan mengirimkan pesan kepadaku. Tapi, aku mengacuhkannya. Aku benar-benar tak mau bicara dengan siapapun, tak mau tersenyum karena apapun, bahkan sekedar mengirim pesan pun aku terpaksa.

~+~

Ayahku yang asyik mengobrol dengan guru pendamping, ku cela dengan kesal, “Ayo pulang…” air mataku menetes lagi. Ayah memelukku, namun itu tak dapat membuatku tenang.

Kami pulang dengan naik motor. Bisikan setan sempat mampir dipikiranku, agar aku melompat dari motor yang kunaiki. Tapi aku terlalu takut untuk melakukan hal bodoh seperti itu. Hash! Seharusnya aku tetap bersyukur dalam keadaan apa pun. Namun hatiku terlanjur mengeras.

Di rumah, aku dinasehati oleh orang tuaku. Tapi, tak satupun dapat menyadarkanku. Aku mengamuk di kamarku yang sepi. Ku lempar bantal, guling, selimut, dan apapun yang ingin ku lempar. Sesekali ku gigit tanganku sendiri hingga memerah, dan kubenturkan kepalaku ke tembok. Kekecewaanku telah meledak. Aku marah, aku lelah dengan semua harapan palsu yang sering kudapatkan. Aku merasa bodoh dan tak berguna. Semua ancaman kuacuhkan, dan kubiarkan diriku tenang dengan sendirinya meskipun masih terbesit luka di dalam jiwa.

Yaah, Saturday… hari besar bagiku, yang selalu memberiku pengalaman berharga. Malam minggu ini, ku tulis ceritaku, paling tidak untuk membuat kekesalanku mereda. Dan inilah salah satu dari jutaan saturdayku.

~+~
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar