Selasa, 01 Desember 2020

Pupuk Pilihan Petani

Mengenal Pupuk yang Biasa Digunakan Petani

Anila Indrianti A.

Fakultas Pertanian UGM

 
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah dengan fungsi untuk memperbaiki struktur tanah, menambah nutrisi tanah, dan menggantikan unsur hara tanah yang berkurang akibat penanaman maupun fenomena alam (Lingga, 2001). Biasanya pemupukan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman sehingga didapatkan hasil panen yang maksimal. Jika pupuk yang ditambahkan dengan dosis yang tepat maka produktivitas tanaman akan meningkat. Namun, jika dosis yang yang diberikan kurang tepat atau bahkan berlebihan, produktivitas tanaman dapat tergangu dan rentan terhadap penyakit.

Pada tanggal Jumat, 25 September 2020, telah dilakukan wawancara dengan Ibu Supartini (49) untuk mengetahui jenis pupuk yang digunakan pada lahannya. Lahan Ibu Supartini berada di desa Dukuh Gunungkancil, Nglembu, Sambi, Boyolali. Jenis lahan beliau adalah sawah seluas +- 3300 m2 dengan komoditas padi yang ditanam secara monokultur. Dalam satu tahun, lahan tersebut dapat mengalami 3 kali tanam. Jenis pupuk yang sering digunakan adalah pupuk organik berupa pupuk kandang dan pupuk anorganik berupa pupuk urea, phoska, dan SP36.

    Pupuk Organik 

               Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan alami yaitu sisa-sisa tumbuhan maupun hewan. Pupuk organic yang digunakan oleh Bu Supartini berupa pupuk kandang yang terbuat dari kotoran sapi dan jerami yang dicampur menjadi satu. Pupuk ini diolah sendiri dengan metode aerob di belakang kandang sapi milik beliau. Pupuk ini diaplikasikan setiap sebelum pengolahan tanah dilakukan. Dosisnya diberikan sebanyak-banyaknya sesuai ketersediaan pupuk kandang dan luasnya lahan yang digarap.

    Pupuk Anorganik

   Pupuk anorganik merupakan pupuk buatan yang diproses secara kimiawi. Pupuk ini biasa digunakan di dunia pertanian karena mengandung zat-zat yang dapat memperbaiki kesuburan dan kualitas tanah (Zhang et al., 2019). Dalam menanam padi, Bu Supartini biasanya mengaplikasikan pupuk anorganik berupa urea, phoska, dan SP36. Menurut BBPADI (2015), dosis pemupukan pada padi sawah yang diperlukan yaitu:

  • Pertama, saat padi berumur 7-10 HST. Pupuk yang digunakan adalah Urea 75 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha
  • Kedua diberikan saat tanaman padi berumur 21 HST menggunakan pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha.
  • Ketiga pada saat umur padi 42 HST menggunakan 75 kg/ha Urea dan 50 kg/ha KCl.
        Urea : Urea merupakan pupuk yang mengandung unsur N. Bentuknya butiran berwarna merah muda, berukuran kecil, dan mudah larut dalam air. Ibu Supartini mengaplikasikan pupuk ini sebanyak 50 kg untuk luas lahan +- 3300 m2 saat umur tanaman padi menginjak hari ke 15 dari awal penanaman. Cara mengaplikasikannya cukup ditabur secara merata di lahan tersebut. Penambahan pupuk Nitrogen (N) dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, sehingga berpotensi mengurangi efek hilangnya nutrisi tanah dan produktivitas tanaman (Nguyen et al., 2019)
        Phoska : Berdasarkan informasi dari narasumber, beliau menggunakan Phoska sebagai alternatif Pupuk Phonska ketika sulit ditemukan di pasaran. Perbedaan pupuk Phoska dengan Phonska terletak pada kandungan unsur N nya. Pupuk Phoska tidak memiliki unsur N, sehingga pengaplikasiannya dilakukan bersama-sama dengan pupuk Urea. Dosis yang narasumber digunakan sebanyak 50 kg untuk luas lahan +- 3300 m2 dan diberikan saat umur tanaman padi 15 hari dari awal penanaman. Pupuk ini bermanfaat untuk menggemburkan tanah dan mendorong pertumbuhan akar. 
        SP36 : SP36 merupakan pupuk pembenah tanah yang menurut narasumber bisa untuk membenahi keadaan tanah. Pupuk ini mengandung Sulfur dan Fosfor. Pupuk ini jarang diaplikasikan oleh narasumber. Karena tergolong mahal, pupuk ini hanya diaplikasikan sebagai pengganti pupuk Phoska ketika narasumber memiliki modal yang lebih untuk membelinya. Cara pengaplikasiannya cukup ditaburkan. Dosis yang diberikan oleh narasumber sejumlah 50 kg saat tanaman padi berusia 15 hari. 
        Pupuk SP36 biasanya berbentuk butiran berwarna abu-abu kehitaman dan mudah larut di dalam air. Pupuk SP36 dapat digunakan untuk berbagai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. manfaat pupuk ini adalah sebagai sumber nutrisi fosfor bagi tumbuhan, mempromosikan pertumbuhan akar dan sistem akar yang baik, mendorong fase generatif, mempercepat panen, mingkatkan persentase pembentukan bunga menjadi buah/biji, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap gangguan hama, penyakit dan kekeringan (Petrokimia, 2018)

 

Daftar Pustaka

BBPADI. 2015. Pemupukan pada Tanaman Padi <http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-

berita/info-teknologi/pemupukan        pada tanaman-padi> Diakses pada 30 November 2020 
Lingga, P. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nguyen, L. T. T., Yui O., Kaitao L., Ian C. A., Michael P. B., David T. T., and Brajesh K. S. 2018.  

Responses of the soil microbial community to nitrogen fertilizer regimes and historical exposure to extreme weather events: Flooding or prolonged-drought. Soil Biology and Biochemistry Elsevier 118(2018): 227-236 
Petrokimia. 2018. Fertilizer Product Katalog. < https://petrokimia-gresik.com/product/> Diakses pada 30 November 2020 
Zhang, M., Riaz M., Lin Z., Hao X., Ming G. and Cuncang J. 2019. Investigating the effect of biochar and fertilizer on the composition andfunction of bacteria in red soil. Applied Soil Ecology Elsevier 139(2019): 107-116

Dokumentasi 

         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar