Minggu, 21 April 2019

SENSING CULTURE

SENSING CULTURE
catatan si pelupa

Ada sebuah status dari seorang kakak di Keluarga Mahasiswa Muslim Fakultas yang menarik bagiku. Judulnya "Sensing Culture". Statusnya dibuat berdasarkan keikutsertaannya dalam Kajian Umum Psikologi Islam di kampus. Sekitar seminggu sebelum masuk kuliah semester 2.

Isinya kurang lebih begini...

Sensing culture sepertinya merupakan turunan dari Ghazwl Fikr (Perang Pemikiran) ketika semua sisi kehidupan seolah diceraikan dari agama. Imbasnya ialah menjadikan muslim seperti buih-buih dilautan. Yaitu yang kuantitasnya sangat banyak, namun kualitasnya malah sangat lemah.

Sederhananya, coba tengok diri sendiri,
Apakah lebih suka baca Al Quran, belajar, baca buku, atau berselancar di sosmed tanpa faidah yang berarti?

Nah, dalam sensing culture, zaman ini disetting seolah menghabiskan waktu bersama Al Quran, buku, dan yang lainnya itu adalah hal yang aneh.

Teringat perkataan seorang liberal, bahwa untuk mengalahkan muslimin bukan dengan perang senjata, tapi dengan menjauhkan Al Quran dari kita.
Ngeri kan?

Selanjutnya, tentang sensing culture di kehidupan kampus...

Ketika 4 tahun kuliah dihabiskan untuk mengejar IPK atau lulus cepat dengan "menghalalkan segala cara".
Curigalah kamu bukan generasi yang bermanfaat bagi orang tua, agama, bangsa dan negara seperti yang diharapkan ketika kelahiranmu.

Ketika IPK dan lulus cepat menjadi pendewaan dalam semua aktivitasmu,
sunnah jarang dikerjakan atau malah tidak pernah, bahkan sampai tega banget meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim.
Terang-terangan anti ngaji, anti dakwah, dan melakukan tasyabbuh dengan dalih toleransi.

Buku kuliah pun sampai lusuh,
tapi eh Al Quran nya dipajang aja, jarang dibuka, bahkan tak tersentuh.

Sebenarnya, untuk apa sih nilai di atas kertas, kalau kita lupa hakikat seorang muslim, bahkan sama sekali tidak punya nilai sebagai seorang hamba yang punya Tuhan?

Curigalah
Curigalah kalau ilmumu tidak akan menyelamatkanmu.
Curigalah
Curigalah kalau ilmumu tidak akan menyelamatkanmu,
Jangankan di akhirat, di dunia pun mungkin tidak ~

Jika kau merasa terselamatkan, padahal kewajibanmu sebagai seorang hamba sering terbengkalai,
Curigalah kalau kalau nikmatmu dipercepat dan siksamu ditangguhkan sampai ke akhirat.

Hmm...
Tentang sensing culture dalam diri,

Teringat sebelum ini ku selalu paranoid terhadap tugas-tugas kampus.
Paranoid kalau nggak dapet dosen sesuai keinginan, paranoid kalo harus rebutan kelas, paranoid kalo cuma dapet nilai standar, paranoid karena jalanan macet, dan sebagainya...

Dengan tidak menyepelekan, padahal itu cuma urusan dunia yang sepele kan?
Yang kalau tak sesuai perencanaan pun, nggak bakal bikin mati kalau belum waktunya mati...
Sedangkan, pas ada kajian malah ngeluh kalau timingnya ngurangi waktu untuk ngerjain tugas kampus. Ngaji aja diskip demi ngerjain tugas kampus. Dan sebagainya demi tugas kampus...

Persiapan akhiratnya kapan?
Mengerikan sekali jika harga diri sebatas secarik kertas dan harga akhirat ditawar-tawar...
Bukankah dunia ini hanya kenikmatan layaknya setetes air?
Yang seharusnya tidak membuat bangga karena mendapat setetes, dan tidak membuat sedih karena tidak mendapat setetes...

Dan aku pun tertampar...

Hidup ini sudah terlalu sering dibanding, ditimbang, dan dihitung.
Sedangkan ibadah sendiri sering luput dari rasa takut tidak diterima. Seentengkah itu urusan akhirat?
Sudah yakin kalau dapat surga?

Allahu yahdiik...
-Nyadarin diri
13 Februari 2019 (14.32)

PARANOID

PARANOID
Catatan cemas dari mahasiswa biasa-biasa saja

Sekarang aku berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta tingkat semester 2.
Semenjak awal kuliah, aku tinggal di sebuah asrama muslimah dengan 12 orang penghuni. Asramaku ini berjarak sekitar 5 km dari kampus dengan waktu tempuh paling cepat 15 menit. Kalau jalanan macet, bisa lebih lama lagi. Tahulah Yogyakarta bagian kota seperti apa.

Keputusan untuk berkuliah di jurusan yang ku ambil sekarang ini bukanlah melalui proses yang singkat. Tapi cukup lama, dan keputusan ini merupakan hasil negosiasiku dengan kedua orang tua, dibantu guru BK dan mentor bimbel. Dengan kata lain, sejak awal jurusan ini bukanlah jurusan favoritku.
Lalu favoritku? Aku sendiri masih tidak tahu jurusan apa, hehe.

Aku tidak tahu mengapa aku ditakdirkan untuk berkuliah di sini. Saat masa orientasi pun, setiap diminta untuk membuat "Life Mapping", aku selalu membuat perencanaan yang masih mengambang dan sangat luas. Misalkan tahun 2018 masuk kuliah, tahun 2022 wisuda, tahun 2023 nikah. Misalkan, hehe...
Kau tahu kenapa? karena perencanaan yang pernah ku buat sebelumnya merupakan Life Mapping jika aku masuk ke sekolah kedinasan. Agak nyelekit memang, jika ku ingat pointku sedikit lagi saja bisa masuk ke sana. Dan qadarallah semua terjadi, dan aku sendiri belum siap dengan Plan B.

Aku coba menerima dan menjalani kehidupanku sebagai mahasiswa baru di kampus tercinta. Aku pun mulai mengikuti berbagai oprec organisasi dan kegiatan mahasiswa yang ku inginkan.
Memang, dulu sewaktu awal masuk kuliah, semangat berorganisasiku masih menggebu. Aku ingin jadi pemandu, aku ingin ikut di bidang pengabdian masyarakat, dan aku ingin ikut program mahasiswa mengajar ke SD di desa. Untuk yang terakhir itu, aku ingin sekali.

Lembaga Dakwah Kampus, Fakultas, dan Himpunan Mahasiswa ku daftari. Termasuk juga program mengajar sekolah dasar. Aku merasa, menjadi guru adalah keinginan mendalamku 😂
Tapi sayangnya, aku malah tidak diterima di sana. Kendorlah semangatku untuk mengikuti berbagai kegiatan lainnya, karena kegagalanku itu.

Apalagi tugas-tugas sudah mulai bermunculan dan ada 3 jadwal praktikum setiap minggunya.

Tentang praktikum, hmm...
Seminggu 3 kali dengan laporan minimal 6 halaman folio ditulis tangan untuk masing-masing acara. Padahal dalam satu praktikum bisa terdapat sampai 3 acara.

Gampang ya?

Setelah ku lalui itu semua, kalo dipikir memang gampang sih. Tapi pada saat menjalaninya terasa berat. Sangat berat.
Menyusun latar belakang dan sitasinya, harus ditulis dengan rapi, tabel dan grafik yang sesuai, dan perhitungan yang benar.
Mengapa terasa begitu berat?

Sekarang baru tersadar. Hampir 18 tahun ku hidup, aku baru merasa tersadarkan. Bahwa hal-hal dalam hidup ini sering terasa berat bila terlalu dipikirkan, tapi nyatanya tidak saat dijalani atau bahkan sudah terlewati. 😆 17 tahun yang lalu ke mana aja....

Ku teringat kata seorang teman, kata dosen, dan kata murabbiku pada hari pertama kuliah semester 2. 11 Februari 2019.

Sepertinya aku kurang ikhlas saja menjalani semua ini. Jiwa ragaku belum siap untuk menghadapi sesuatu yang belum kupersiapkan.
Apalagi dengan keadaan yang tidak sesuai harapan, makin membuat tidak ikhlas saja kan?

Selama kuliah ini, aku tinggal di asrama muslimah dengan 12 orang lainnya. Jarak ke kampus sekitar 5 km dengan waktu tempuh paling cepat 15 menit dengan sepeda motor.

Beda dengan saat masih SMA dulu, 3 menit jalan kaki dari kosan sudah sampai di sekolah.
Atau sewaktu SMP, 5 menit waktu tempuh dengan diantar orang tua naik sepeda motor, atau 20 menit dengan jalan kaki. Tanpa macet.


Ya, sampai sekarang ku tidak suka buang-buang waktu di jalan. Aku tidak suka ada orang yang ugal-ugalan atau memarkirkan sembarangan.
Apalagi salah satu trafficlight yang ku lalui sedang diadakan rekonstruksi. Aku jadi harus mencari jalan lain yang waktu tempuhnya bisa 2 kali lipat. Sudah panas, lebar jalan standar, macet pula. Ah, mungkin ini salah satu alasan yang membuatku tidak ingin tinggal selamanya di Kota Yogyakarta.
Sangat tidak recomended bagi orang penyuka kesejukan, kesunyian, dan kelapangan sepertiku.
Suatu ketika, ku meminta masukan tentang masalah yang kuhadapi kepada orang terdekatku. Tentang perjalanan yang tidak ku suka. Tentang teman yang kurang cocok. Dan tentang rencana yang tak kesampaian...
Aku senang mereka menyimpulkan rasaku ini ke paranoid.
Kecemasan berlebih, pada hal yang sepele, atau malah belum terjadi.

Itu berarti aku akan mudah move up dari kecemasan ini kan?

Kalau dipikir, memang iya ya.
Aku ini terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Aku terlalu banyak mencemaskan hal-hal yang sebenarnya baik-baik saja.

Kata mereka, seharusnya aku menerima saja.
Melakukan penerimaan yang sejalan dengan lapang dada. Maka dengan sendirinya, aku akan melihat hidup yang sempit ini menjadi lebih lapang.
Tinggal ikhtiar dan doa mohon dikuatkan dan disabarkan.

Tentang paranoid itu...
Teringat pada peringatan zaman dulu sih,

Jangan terlalu banyak bergaul dengan orang yang dunianya di atas kita. Jangan terlalu banyak bergaul dengan orang yang suka menimbulkan paranoid. "Nek kowe ora anu, mengko anu lho..."
Jangan. Jangan terlalu banyak.

Bergaullah dengan orang-orang yang mungkin dunianya di bawah kita. Bergaullah dengan orang-orang yang penuh motivasi, dan tidak khawatir tentang hidup ini.
Supaya kita bersyukur, dan semakin yakin kalau Allah yang mengatur.
Semua urusan kita. Semuanya...

Tugas kita hanya ikhtiar, sabar, syukur, dan semua yang sejalan dengan taqwa....

-Rindu, 12 Februari 2019, 12.03
Aia