Saturday
Oleh : Anila
Saturday… adalah waktu bagi
teman-temanku untuk berkumpul bersama teman lainnya. Waktu bagi kebanyakan
orang untuk berjalan-jalan bersama sanak saudara, dan saling bertukar canda.
Sedangkan aku tak melakukan semua hal itu. Kuhabiskan Sabtu untuk sekedar
memiliki pengalaman berharga, karena semua Sabtu adalah hari terbesarku.
Hari
yang selalu menjadi sejarah bagiku. Sejarah terpenting di hidupku. Waktu untukku
berbahagia dan tertawa, yang sekaligus bisa membuatku bersedih dan menumpahkan
air mata.
Sabtu, 18 April 2015, Panca Lomba
bidang Siswa Berprestasi, kategori Putri. FIGHTING!! Pagiku sudah terburu-buru.
Seperti biasa, tak ada yang mengantarku berangkat ke sekolah. Kakiku melangkah
cepat di bawah sinar fajar yang sudah tinggi. Aku bersusah payah menggendong
tas yang berisi sebuah laptop dan penuh akan buku. Sialnya aku harus berlarian
membawa beban berat untuk mengejar bus. Padahal aku sudah menyetopnya, namun
bus itu terus berjalan. Yipp!! Aku berhasil masuk ke dalamnya.
Sesampainya di sekolah, ku sapa
temanku dengan senyuman. Berharap hari ini menyenangkan walaupun dengan pagi
yang menyebalkan. Keringatku bercucuran, dan aku pun harus membeli dua bungkus
tisu untuk menyekanya. Firasatku yang tidak enak mulai bermunculan. Perasaan
takut akan kegagalan dan kehilangan. Tapi selalu ku coba untuk percaya diri di
samping dukungan orang-orang di sekitarku. Setidaknya aku telah berusaha dan
berdoa semampuku.
~+~
Di bangunan baru SMP tempatku
berkompetisi terasa gersang, hawa panas menyengat hebat. Aku dan Arya belajar menyanyikan
lagu-lagu wajib untuk persiapan bila nanti diminta bernyanyi. Sedangkan temanku
yang lainnya sibuk membolak-balikkan buku pelajaran. Pukul 08.30, kami diminta
berkumpul di lapangan, aku pun harus berdiri di bawah terik matahari bersama
seluruh rivalku. Upacara pembukaan yang lumayan lama membuat diriku menjadi
cacing kepanasan. Namun sebelum itu terjadi, upacaranya sudah selesai.
Aku memasuki ruangan lomba dengan
penuh harapan menjadi seorang pemenang. Jantungku tak henti berdebar kencang,
meskipun ku coba untuk tenang. Ku lihat siswi-siswi yang menjadi sainganku di
ruang itu. Dan ternyata rival terberatku juga ada di situ. Aku hanya datang,
duduk, dan diam. Agak sungkan bagiku untuk berkenalan dengan teman sebangku.
Kuselipkan doa di setiap gerak-gerikku, agar dapat memperbaiki moodku.
Ibu Panitia memberikan pengarahan
kepada kami. Tentu saja kami mendengarkan dengan sebaik mungkin. Kemudian, beliau
mulai membagikan soal, aku penasaran pada soal yang akan ku dapatkan. Ku pahami
perintahnya, dan waktu pengerjaan di mulai. Teng! Teng!! Ku kerjakan soal di
hadapanku dengan hati-hati. Membaca soal hingga aku tahu maksudnya, lalu
menyilang abjad di lembar jawab yang tersedia. Semua soal itu meyakinkan diriku
bisa menjawabnya. OPTIMIS!!
Tahap pertama telah rampung, kini
giliran tahapan kedua yang menguji kemampuanku dalam teknologi informasi dan
komunikasi. Ku buat tabel dengan teliti, sebab kesalahan sedikit saja dapat
berakibat fatal. Aku mengoperasikan laptop itu dengan sebaik-baiknya. Beruntung
tak ada trouble yang menghadangku seperti peserta lain yang tiba-tiba PC-nya
mati karena kehabisan energi.
~+~
Waktu istirahat ini kugunakan untuk
memperkirakan pertanyaan yang muncul pada saat tes wawancara, juga untuk
menyiapkan jawabannya. Aku sempat menunda makan siang karena terlalu nervous
menunggu stage ke tiga. Bahkan debaran jantungku lebih kencang dari sebelumnya.
Kami para peserta lomba siswa
berprestasi harus kembali memasuki ruang lomba karena waktu istirahat telah
selesai. Saat aku kembali lagi ke ruanganku, ku dapati penilaiannya belum
selesai. Aku mengintip sedikit saat pekerjaanku dinilai. YESS!! Nilai sempurna!
Seorang bapak calon pewawancara
masuk ke ruangan dan memberikan beberapa penjelasan. Wawancara dilakukan satu
persatu secara bergantian, dan peserta lain harus menunggu giliran di luar. Karena
menunggu terlalu lama, kuputuskan untuk mencari teman bicara. Teman baru yang
kudapatkan, karena teman sekolahku sibuk dengan urusan masing-masing. Dia bernomor
urut SBPI-022, sedangkan aku SBPI-023, itu berarti aku akan diwawancarai
setelah dirinya. Kami membicarakan banyak hal seputar sekolah.
Saat giliran teman baruku itu, aku
menunggu di luar sambil diberi support oleh teman-temanku dan guru
pendampingku. Aku menjadi lebih percaya diri dan lebih tenang. Tibalah aku memasuki ruangan dengan mantap,
tak lupa aku menyalami juri. Aku duduk dan mendengarkan setiap pertanyaan yang
beliau lontarkan, kemudian ku jawab dengan sejujurnya dan penuh yakin. Komentar
juri membuatku semakin mantap untuk menjadi sang juara. Impianku akan segera
terwujud.
~+~
Aku dan peserta lain menunggu
pengumuman sampai sore hari. Aku dan teman-temanku menghabiskan waktu untuk
bercanda ria, berfoto bersama, dan tak lupa berdoa agar mendapat hasil yang
memuaskan. Selang beberapa saat kemudian, lima temanku yang lain pulang bersama
beberapa guru pendamping. Kini tersisa kami berlima, yaitu aku, Arya, Indah,
Ana, dan Maya.
Langit senja berbalut awan mendung
menjadi pemandangan yang agak asing di tempat itu. Angin dingin mulai
berhembus, dan inilah saatnya pengumuman hasil lomba. Nama peserta calon juara
disebutkan satu persatu, dan ternyata nama kami berlima ada di dalamnya.
Sungguh peluang besar yang membahagiakan. Namun ada sebuah bisikan kecil yang
menyatakan bahwa aku hanya berada di posisi ke lima. Hal itu berhasil melunturkan
senyumku dan mematahkan semangatku.
Kami semua diminta untuk menuju ke
lapangan. Mengikuti upacara seperti tadi pagi, dengan suasana yang berbeda.
Dari pagi yang ramai dan panas, berubah menjadi sore yang sepi dan dingin.
Jiwaku dingin, hatiku mengeras saat
mengetahui aku benar-benar berada di posisi ke lima. Sedangkan Arya adalah
juara pertama, lomba Siswa Berprestasi Putra. Indah adalah juara ke dua, lomba
Rumpun Bahasa. Ana adalah juara ke dua, lomba Rumpun MIPA. Dan Maya adalah
juara ke tiga, lomba Problem Solving Contest. Sedangkan aku? “Payah… harapan
lagi,” gerutuku dalam kesepian.
Aku sendirian, memeluk angin dingin
yang sesungguhnya tak bisa kupeluk. Berpayung awan mendung bersama semua
kepedihanku. Aku membisu seperti batu, mencoba menahan air mata. Aku kecewa,
benar-benar kecewa. Tak ada yang peduli dengan diriku, bahkan hidupku pun tak
berpihak kepadaku.
Saat mereka telah selesai
mengabadikan momen-momen itu, kami semua bubar. Keberhasilan keempat temanku
disambut ceria oleh guru-guru pendamping. Tak ada yang memperhatikanku, aku
berjalan sendiri melawan terpaan angin yang berhembus dingin. Dingin, hanya itu
yang kurasakan.
Setelah mereka melihatku berjalan
kearahnya, mereka baru ingat ada aku di sini. Terlalu larut dalam gelimangan
kebahagiaan, mereka melupakan aku yang berlinang air mata kekecewaan. Air
mataku tumpah, mereka semua menyemangatiku agar aku tak berputus asa.
TERLAMBAT!! Air mataku telah menetes, dan tak mungkin bisa kembali lagi. Aku
tak berhenti menangis dalam diam.
Saat di rumah makan untuk makan
malam, mereka sibuk membicarakan kemenangannya. Aku hanya diam dan melahap
makananku dengan tak bernafsu. “Udahlah, kamu jangan sedih. Ini malam minggu
kan? Pasti nanti diajak keluargamu jalan-jalan. Lagi pula, juara harapan dua
itu sudah baik kok,” Maya yang berada di sebelahku mencoba menghiburku. Huh!!
Malam minggu pun aku tak akan ke mana-mana. Keluargaku jarang mengajakku
jalan-jalan.
Aku hanya mendiamkan siapa pun yang
menghiburku. Tak ada kata yang perlu kuucapkan. Selama perjalanan pulang, aku
hanya mengotak-atik handphoneku untuk menghubungi orang tuaku agar segera
menjemputku. Seseorang bertanya akan kabar selama lomba dengan mengirimkan
pesan kepadaku. Tapi, aku mengacuhkannya. Aku benar-benar tak mau bicara dengan
siapapun, tak mau tersenyum karena apapun, bahkan sekedar mengirim pesan pun
aku terpaksa.
~+~
Ayahku yang asyik mengobrol dengan
guru pendamping, ku cela dengan kesal, “Ayo pulang…” air mataku menetes lagi.
Ayah memelukku, namun itu tak dapat membuatku tenang.
Kami pulang dengan naik motor.
Bisikan setan sempat mampir dipikiranku, agar aku melompat dari motor yang
kunaiki. Tapi aku terlalu takut untuk melakukan hal bodoh seperti itu. Hash!
Seharusnya aku tetap bersyukur dalam keadaan apa pun. Namun hatiku terlanjur
mengeras.
Di rumah, aku dinasehati oleh orang
tuaku. Tapi, tak satupun dapat menyadarkanku. Aku mengamuk di kamarku yang
sepi. Ku lempar bantal, guling, selimut, dan apapun yang ingin ku lempar.
Sesekali ku gigit tanganku sendiri hingga memerah, dan kubenturkan kepalaku ke
tembok. Kekecewaanku telah meledak. Aku marah, aku lelah dengan semua harapan
palsu yang sering kudapatkan. Aku merasa bodoh dan tak berguna. Semua ancaman
kuacuhkan, dan kubiarkan diriku tenang dengan sendirinya meskipun masih
terbesit luka di dalam jiwa.
Yaah, Saturday… hari besar bagiku,
yang selalu memberiku pengalaman berharga. Malam minggu ini, ku tulis ceritaku,
paling tidak untuk membuat kekesalanku mereda. Dan inilah salah satu dari
jutaan saturdayku.
~+~
THE END