Selasa, 10 November 2015

Puisi Pahlawan - Geguritan Lelabuhan



Gugure Kembang
Dening : Anila Indrianti A.

Mega mendhung enggal teka
Nutupi angga ingkang lara
Surya wus ilang saka awang-awang
Candra sungkawa ing ndhuwur gugure kembang
                                                Aku pejuwang
                                                Kang kepengin bumiku menang
                                                Upama aku lena sajroning perang
                                                Aku bakal dadi kembang
                        Akasa ora bisa nahan sedhih
                        Kelingan ujare para pejuwang
Tangise mbanjiri segara getih
Kang tiba wangi aruming kembang
Gugure kembang dumadi kenangan
Wektu sumunar sunare raditya
Sajroning dina kamardikan
Lan gagahing abang putih ing angkasa
                                    Mardika!
                                    Mardika!
                                    Mardika!

Kamis, 05 November 2015

Menutup Aib

Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang Lain

Assalamu’alaikum, hai kawan…! 

       Siapa yang suka ngumpul bareng temen? Namanya juga remaja, tentu suka banget kalau main rame-rame. Because, kita bisa sharingan, tukeran informasi, belajar kelompok, ataupun sekedar have fun ketemu sama temen. Nah, kalau udah bareng-bareng gini, banyak banget yang bisa diomongin. Dari yang dibahas ini, lama-lama juga merembet ke mana-mana. Eh, tapi jangan sampai ngomongin orang ya gaes. Jangan sampai ngebahas aib orang lain deh.

Apa sih, aib itu?

        Aib adalah suatu cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang. Jika diketahui orang lain, akan membuat rasa malu yang membawa kepada efek psikologi yang negatif.

Tapi, secara sadar maupun tidak sadar, kita pasti pernah ngomongin orang. Ya kaan?

        Sebenernya, banyak terdapat di keseharian kita, pembicaraan dan obrolan apapun, kayanya nggak asyik kalau nggak ada orang yang diomongin. Entah itu tentang kelebihan, kekurangan, bahkan sampai pada aib orang lain. Padahal, itu bukan perkara enteng dalam pandangan Islam, dan kita juga tahu, mengghibah alias ngomongin orang orang itu dosa!

Ajaran Islam, melarang keras aib seseorang diceritakan, dan tidak boleh sekali-kali menyebarkan tentang kondisi yang tidak baik dari seseorang.

Islam mengajarkan untuk menutup aib, baik milik diri sendiri, maupun orang lain. Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat ayat 12 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha PenerimaTobat, Maha Penyayang.”

Maha Benar Allah dengan segala firman NYA.

Nah, gaes. Orang yang suka mencari-cari kesalahan dan aib orang lain, ibarat manusia yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati. Siapa yang tidak jijik kepada perbuatan keji itu?

Sesama manusia adalah saudara. Maka dari itu, kita tidak boleh mengintip alias mencari-cari aib siapapun. Sesuai sabda Rasulullah : “Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya, dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.” (HR. at-Tirmidzi)

 

Itu kan aib orang lain, kalau diri sendiri, gimana?

Tetep nggak boleh, ya gaes. Lagipula, siapa yang ngga malu kalau aibnya diketahui orang lain?

Kalaupun ada, Naudzubillah, berarti mereka adalah orang yang ngga tahu malu.

Nih ya, Rasulullah juga melarang seseorang untuk membuka aibnya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya : “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu – padahal Allah telah menutupnya dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari Muslim)

        Memalukan sekali orang yang aibnya telah ditutup oleh Allah, namun malah membukanya sendiri. Semoga, kita tidak termasuk orang yang seperti itu. Aamiin…

Ya udah, tunggu apa lagi? Yuk menutup aib diri sendiri maupun orang lain. Karena Rasulullah pun memberikan kabar gembira: “Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

        Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya. Baik yang disengaja, maupun tidak. Oleh karena itu, mari bercermin terlebih dahulu, agar kita dapat terhindar dari perbuatan yang tidak baik.

Rasulullah bersabda : “Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar dengan Sanad hasan).

        Sungguh indah ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib diri sendiri dan orang lain. Yuk, lekas bertaubat dan ganti topik pembicaraanmu dengan hal yang bermanfaat. Jangan lupa untuk terus berupaya memperbaiki diri…

See you later…

Wassalamu’alaikum…

Kamis, 29 Oktober 2015

Puisi Sumpah Pemuda



DEMI BANGSA

Oleh : Anila

Fajar menyingsing di ufuk timur

Pesona wajahmu penuh arti

Seluruh tenaga, akal dan pikiran kau curahkan

Bahkan hayat, jiwa ragamu kau pertaruhkan

Rela berjuang, meski gugur dalam medan perang

Demi kejayaan yang kau pertahankan

            Wahai para pemuda pendahulu

Yang telah hidup puluhan tahun lalu

Yang telah membuat semua bersatu padu

Mengabadikan lentera nusantaramu

            Dengan mengukuhkan segala sumpahmu

            Demi merdeka tujuanmu

Renungkanlah wahai pemuda Indonesia

Jadilah cahaya dan api yang menyala

Jadilah pelopor pembawa obor masa depan

Penggerak nurani tua yang gersang

Memudarkan segala perseteruan

Serta bawalah bangsa ini menuju kemajuan

Kepadamu penerus bangsa

Kobarkanlah api semangatmu

Demi Indonesia negerimu

Gapailah segala harapan

Yang berbuah sejuta kebanggaan

Demi bumi nusantara

Wahai rakyat Indonesia

Lihatlah junjungan tinggi karakter bangsa

Dengan Bhineka Tunggal Ika, Sumpah Pemuda

Para putra dan putri Indonesia

Berselempang tekad baja, patriot yang kesatria dan berjiwa Pancasila

Berjuang memenangkan masa depannya

Demi Bangsa

Senin, 26 Oktober 2015

Cerita Fabel



Madu Lezat Bikie Si Beruang
Oleh : Anila

D
ikisahkan hiduplah seekor beruang bersama teman-temannya di sebuah hutan yang indah, dan penuh dengan madu. Beruang itu bernama Bikie. Ia tinggal bersama Hari si harimau, Ruru si kangguru, Kela si keledai, Pigi si babi, Pak Kelinci, dan binatang lainnya.  Mereka hidup bahagia. Saling bekerjasama adalah kesehariannya. Tak heran mereka selalu rukun dan damai 
 
Suatu pagi, Bikie sedang mencari madu kesukaannya. “Aduh, madunya ke mana ya? Dicari kok tidak ada. Apa jangan-jangan dicuri? Dicuri siapa? Aduh jangan. Jangan sampai itu terjadi,” keluh si beruang. Ia mencari ke sana ke mari, tapi tidak ketemu juga. Bikie pun keluar rumah dan bertemu Hari sang harimau. Mendengar keluhan Bikie, Hari langsung menanyakan hal itu kepadanya. “Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Hari. “Maduku hilang! Hilang! Dicuri binatang lain, aku tak tahu siapa. Bagaimana ini?”  jawab beruang kebingungan. “Ah, kamu jangan berprasangka buruk seperti itu. Belum tentu madumu diambil binatang lain, kan belum ada buktinya. Kamu tidak usah bingung, kita tanya saja sama yang lain. Mungkin mereka tahu,” Hari mencoba menenangkan sahabatnya.

Kemudian, mereka menelusuri hutan untuk mencari madu milik Bikie dan menanyakannya pada teman-teman. “Kela, tahukah kamu mengenai maduku?” tanya Bikie kepada keledai. “Maaf Bikie, aku tidak tahu,” singkat Kela. “Hai Ruru, apakah kamu tahu keberadaan madu Bikie?” tanya Hari kepada kangguru. “Sayang sekali Hari, aku tidak tahu. Maaf ya,” jawab Ruru. Bikie dan Hari sudah mencari madu milik Bikie ke mana pun. Namun, tak satupun yang tahu keberadaan madu tersebut. Beruang lucu itu pun semakin sedih. Madu favoritnya telah hilang.

“Sudahlah, jangan bersedih terus. Mungkin madumu habis, bukannya hilang,” Hari menghela nafas sejenak, “Coba ingat lagi. Untuk apa madumu kemarin?” lanjutnya. Benar juga kata harimau cerdas itu. Bikie mencoba mengikuti kata Hari. Beberapa saat kemudian, “Oh iya. Kemarin maduku digunakan untuk kita bermain kerajaan madu. Setelah itu, kita juga berpesta madu. Aduh, maaf ya, aku telah berprasangka buruk, tadi. Aduh, kok aku jadi pelupa begini ya?” ujar Bikie malu-malu sambil tersenyum. Tiba-tiba, “Aku lapar, kawan. Kamu lapar tidak?” tanya Bikie kepada Hari. “Iya, aku juga lapar. Ayo kita cari madu di hutan.” Mereka berdua pun mencari madu bersama-sama.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Pigi. “Hai Hari, hai Bikie. Kalian mau pergi ke mana?” sapa Pigi. “Kami tidak pergi ke mana-mana. Kami hanya ingin mencari madu untuk dimakan,” jelas Bikie. “Wah, kebetulan sekali, aku sedang lapar. Persediaan makanan di rumahku juga tinggal sedikit. Bolehkah aku ikut dengan kalian untuk mencari madu bersama?” tanya Pigi. “Tentu boleh Pigi.”

Mereka menelusuri hutan bersama-sama untuk mencari madu. Melewati pepohonan, dan mengarungi sungai. “Lihat! Aku melihat sebuah pohon yang di atasnya ada sarang lebah madu! Di sana pasti banyak madunya!” seru Hari. Wah, mereka sangat beruntung. Lalu, mereka menepi dan mendatangi pohon tersebut.

“Wah, benar! Di atas sana ada banyak madu. Tapi, tinggi sekali,” kata Bikie. Beruang itu kesulitan untuk mengambil madu tersebut. Ia berpikir sejenak. “Aha! Aku punya ide! Hari, tolong angkat aku ya, agar aku bisa menjangkau batang pohon itu dan mengambil madunya,” ujar beruang. “Oke!” sahut harimau. Bikie pun naik kepunggung Hari. “Hai Hari, tanganku tak sampai. Bisakah kau lebih tinggi lagi mengangkatku?” tanya Bikie. “Tentu beruang, tapi, kau berat sekali. Namun tak apalah. Aku akan berusaha.”

Hampir saja mereka putus asa karena tak bisa menjangkau pohon tersebut. Namun, karena mereka terus berusaha akhirnya Bikie bisa naik ke pohon yang penuh madu itu. Setelah itu, Pigi melemparkan sebuah periuk untuk wadah madunya. Hari memegangi Bikie agar tidak jatuh. Begitulah salah satu contoh kerjasama mereka. Saling membantu untuk kepentingan bersama. Setelah mengumpulkan banyak madu, tiba-tiba, “ Wah, aku akan jatuh! Bagaimana ini?!” teriak Hari. “Bertahanlah sebentar, Hari. Aku akan memanggil Pak Kelinci untuk menolongmu,” sahut Pigi.

“Eh, anak-anak. Kaian sedang apa di situ?” tanya pak Kelinci tak lama kemudian. “Kami sedang mengambil madu Pak,” jawab Hari. “Mengambil madu? Mengapa?” tanya Pak Kelinci lagi. “Karena kami lapar, hehehe,” sahut Bikie sedikit bercanda. “Awas Bikie! Madunya hampir jatuh!” teriak Pigi dari bawah. “Pak Kelinci, tolong tangkap ini! Jangan sampai jatuh ya!” seru Bikie. “Oh tidak! Batangnya mau patah!” Pak Kelinci panik. Mereka sedang berada di ketegangan. Tak lama kemudian, BRUKK!!! Mereka jatuh bersamaan karena rantingnya patah.  Tapi syukurlah, mereka semua tidak apa-apa.

“Wah, madunya lumayan banyak nih, kita bagikan ke teman-teman ya?” ujar Bikie. “Iya, aku setuju!” sahut Pigi. Merekapun membagikan madu itu kepada teman-teman dan Pak Kelinci. Meskipun hanya sekedar madu, tapi mereka senang, karena mendapatkannya adalah hasil dari kerjasama. Kebetulan, ibu Ruru juga sedang piknik di dekat tempat tersebut bersama teman lainnya. Dibawalah madu itu ke sana untuk dinikmati bersama-sama. Kawan-kawan Bikie sangat menikmatinya.
 

Pada akhirnya, perjuangan Bikie dan temannya untuk mendapatkan madu tak sia-sia. Mereka mendapat banyak sekali madu. Mereka juga berbagi madu itu bersama dengan teman-teman lainnya. Selamanya, mereka akan selalu hidup damai dengan adanya kerjasama dan saling berbagi.





Nah, kawan-kawan, dari cerita ini, kita bisa mengambil hikmah, diantaranya yaitu kita tidak boleh asal menuduh orang, bila kita tak punya bukti apa-apa. Kita juga harus bekerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama. Kita tidak boleh putus asa, kita harus tetap berusaha untuk mendapatkan keinginan kita. Dan jangan lupa berbagi dengan sesama bila telah mendapatkan sesuatu yang melimpah. Ini untuk menjaga kerukunan dan perdamaian sesama teman.

SELESAI