Madu Lezat Bikie Si Beruang
Oleh : Anila
ikisahkan
hiduplah seekor beruang bersama teman-temannya di sebuah hutan yang indah, dan penuh
dengan madu. Beruang itu bernama Bikie. Ia tinggal bersama Hari si harimau,
Ruru si kangguru, Kela si keledai, Pigi si babi, Pak Kelinci, dan binatang lainnya. Mereka hidup bahagia. Saling bekerjasama
adalah kesehariannya. Tak heran mereka selalu rukun dan damai
Suatu
pagi, Bikie sedang mencari madu kesukaannya. “Aduh, madunya ke mana ya? Dicari
kok tidak ada. Apa jangan-jangan dicuri? Dicuri siapa? Aduh jangan. Jangan
sampai itu terjadi,” keluh si beruang. Ia mencari ke sana ke mari, tapi tidak
ketemu juga. Bikie pun keluar rumah dan bertemu Hari sang harimau. Mendengar
keluhan Bikie, Hari langsung menanyakan hal itu kepadanya. “Sebenarnya, apa
yang terjadi?” tanya Hari. “Maduku hilang! Hilang! Dicuri binatang lain, aku
tak tahu siapa. Bagaimana ini?” jawab
beruang kebingungan. “Ah, kamu jangan berprasangka buruk seperti itu. Belum
tentu madumu diambil binatang lain, kan belum ada buktinya. Kamu tidak usah
bingung, kita tanya saja sama yang lain. Mungkin mereka tahu,” Hari mencoba
menenangkan sahabatnya.
Kemudian, mereka menelusuri hutan
untuk mencari madu milik Bikie dan menanyakannya pada teman-teman. “Kela,
tahukah kamu mengenai maduku?” tanya Bikie kepada keledai. “Maaf Bikie, aku
tidak tahu,” singkat Kela. “Hai Ruru, apakah kamu tahu keberadaan madu Bikie?”
tanya Hari kepada kangguru. “Sayang sekali Hari, aku tidak tahu. Maaf ya,”
jawab Ruru. Bikie dan Hari sudah mencari madu milik Bikie ke mana pun. Namun,
tak satupun yang tahu keberadaan madu tersebut. Beruang lucu itu pun semakin
sedih. Madu favoritnya telah hilang.
“Sudahlah,
jangan bersedih terus. Mungkin madumu habis, bukannya hilang,” Hari menghela
nafas sejenak, “Coba ingat lagi. Untuk apa madumu kemarin?” lanjutnya. Benar
juga kata harimau cerdas itu. Bikie mencoba mengikuti kata Hari. Beberapa saat
kemudian, “Oh iya. Kemarin maduku digunakan untuk kita bermain kerajaan madu.
Setelah itu, kita juga berpesta madu. Aduh, maaf ya, aku telah berprasangka
buruk, tadi. Aduh, kok aku jadi pelupa begini ya?” ujar Bikie malu-malu sambil tersenyum.
Tiba-tiba, “Aku lapar, kawan. Kamu lapar tidak?” tanya Bikie kepada Hari. “Iya,
aku juga lapar. Ayo kita cari madu di hutan.” Mereka berdua pun mencari madu
bersama-sama.
Di
tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Pigi. “Hai Hari, hai Bikie. Kalian mau
pergi ke mana?” sapa Pigi. “Kami tidak pergi ke mana-mana. Kami hanya ingin
mencari madu untuk dimakan,” jelas Bikie. “Wah, kebetulan sekali, aku sedang
lapar. Persediaan makanan di rumahku juga tinggal sedikit. Bolehkah aku ikut
dengan kalian untuk mencari madu bersama?” tanya Pigi. “Tentu boleh Pigi.”
Mereka
menelusuri hutan bersama-sama untuk mencari madu. Melewati pepohonan, dan
mengarungi sungai. “Lihat! Aku melihat sebuah pohon yang di atasnya ada sarang
lebah madu! Di sana pasti banyak madunya!” seru Hari. Wah, mereka sangat
beruntung. Lalu, mereka menepi dan mendatangi pohon tersebut.
“Wah, benar! Di atas sana ada
banyak madu. Tapi, tinggi sekali,” kata Bikie. Beruang itu kesulitan untuk
mengambil madu tersebut. Ia berpikir sejenak. “Aha! Aku punya ide! Hari, tolong
angkat aku ya, agar aku bisa menjangkau batang pohon itu dan mengambil
madunya,” ujar beruang. “Oke!” sahut harimau. Bikie pun naik kepunggung Hari.
“Hai Hari, tanganku tak sampai. Bisakah kau lebih tinggi lagi mengangkatku?”
tanya Bikie. “Tentu beruang, tapi, kau berat sekali. Namun tak apalah. Aku akan
berusaha.”
Hampir saja mereka putus asa karena
tak bisa menjangkau pohon tersebut. Namun, karena mereka terus berusaha
akhirnya Bikie bisa naik ke pohon yang penuh madu itu. Setelah itu, Pigi
melemparkan sebuah periuk untuk wadah madunya. Hari memegangi Bikie agar tidak
jatuh. Begitulah salah satu contoh kerjasama mereka. Saling membantu untuk
kepentingan bersama. Setelah mengumpulkan banyak madu, tiba-tiba, “ Wah, aku akan
jatuh! Bagaimana ini?!” teriak Hari. “Bertahanlah sebentar, Hari. Aku akan
memanggil Pak Kelinci untuk menolongmu,” sahut Pigi.
“Eh,
anak-anak. Kaian sedang apa di situ?” tanya pak Kelinci tak lama kemudian.
“Kami sedang mengambil madu Pak,” jawab Hari. “Mengambil madu? Mengapa?” tanya
Pak Kelinci lagi. “Karena kami lapar, hehehe,” sahut Bikie sedikit bercanda.
“Awas Bikie! Madunya hampir jatuh!” teriak Pigi dari bawah. “Pak Kelinci,
tolong tangkap ini! Jangan sampai jatuh ya!” seru Bikie. “Oh tidak! Batangnya
mau patah!” Pak Kelinci panik. Mereka sedang berada di ketegangan. Tak lama
kemudian, BRUKK!!! Mereka jatuh bersamaan karena rantingnya patah. Tapi syukurlah, mereka semua tidak apa-apa.
“Wah,
madunya lumayan banyak nih, kita bagikan ke teman-teman ya?” ujar Bikie. “Iya,
aku setuju!” sahut Pigi. Merekapun membagikan madu itu kepada teman-teman dan
Pak Kelinci. Meskipun hanya sekedar madu, tapi mereka senang, karena
mendapatkannya adalah hasil dari kerjasama. Kebetulan,
ibu Ruru juga sedang piknik di dekat tempat tersebut bersama teman lainnya.
Dibawalah madu itu ke sana untuk dinikmati bersama-sama. Kawan-kawan Bikie
sangat menikmatinya.
Pada akhirnya, perjuangan Bikie dan temannya untuk
mendapatkan madu tak sia-sia. Mereka mendapat banyak sekali madu. Mereka juga
berbagi madu itu bersama dengan teman-teman lainnya. Selamanya, mereka akan
selalu hidup damai dengan adanya kerjasama dan saling berbagi.
Nah, kawan-kawan, dari cerita ini, kita bisa mengambil hikmah,
diantaranya yaitu kita tidak boleh asal menuduh orang, bila kita tak punya
bukti apa-apa. Kita juga harus bekerjasama dan saling membantu untuk
kepentingan bersama. Kita tidak boleh putus asa, kita harus tetap berusaha
untuk mendapatkan keinginan kita. Dan jangan lupa berbagi dengan sesama bila
telah mendapatkan sesuatu yang melimpah. Ini untuk menjaga kerukunan dan
perdamaian sesama teman.
SELESAI