Kamis, 03 Desember 2020

Ketika Tanah Terbengkalai Menjadi Lahan Pertanian

 Hasil Wawancara Petani Terkait Sifat Fisika Tanah

Anila Indrianti A.

Fakultas Pertanian UGM

 
Sumber: Dokumentasi Pribadi
 

Pandemik COVID-19 mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Sejak ditetapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sebagian besar masyarakat melakukan kegiatan work from home atau bekerja dari rumah. Untuk mengisi waktu luang selain WFH, sejumlah masyarakat dapat melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti bertani. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Pak Sugeng (58) di tanah lapang Desa Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Tanah lapang tersebut tadinya akan dijadikan tempat untuk gedung serbaguna. Namun akibat COVID-19, pembangunan belum sempat dilaksanakan.

 Sejak WFH, Pak Sugeng bersama beberapa warga Lempongsari memanfaatkan sebagian tanah lapang yang menganggur untuk dijadikan lahan pertanian. Komoditas yang ditanam bermacam-macam seperti pare, cabai, terong, singkong, kacang, dan pepaya. Dalam pemilihan komoditas, narasumber mengatakan belum sempat mempertimbangkan tanaman apa yang cocok untuk ditumpangsarikan. Hal ini dikarenakan pada awal penanaman hanya dijadikan sebagai pengisi waktu luang. Saat ini lahan tersebut sudah 7 bulan dimanfaatkan dan sudah beberapa kali panen.

Sebelum penanaman, Pak Sugeng melakukan pencangkulan dan pengaplikasian pupuk kandang dari berbagai ternak seperti sapi, kambing, dan ayam. Selain itu, terkadang narasumber juga menambahkan pupuk NPK. Pengolahan lahan ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah. Pengairan tanaman didapatkan dari kolam ikan lele yang dibuat bersamaan dengan pemanfaatan lahan. Pemeliharaan tanaman dilakukan beberapa kali seminggu, yaitu penyiangan gulma, penyiraman, dan pengecekan tanaman.

Permasalahan kesuburan tanah yang dihadapi oleh Pak Sugeng dalam mengelola lahan yaitu struktur tanah yang mengandung banyak pasir, batu, dan cadas. Saat wawancara dilakukan, Pak Sugeng masih dalam upaya untuk menyingkirkan kerikil dan cadas yang terlihat secara manual. Kemudian produktivitas tanaman yang kurang maksimal karena permasalahan jarak tanam dan pemilihan komoditas tumpang sari yang kurang tepat.

Sebelum memulai kegiatan pertanian, kesuburan tanah adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Kesuburan tanah  adalah kemampuan tanah untuk menyediakan tanaman dengan unsur-unsur mineral, air, udara, dan secara umum memberikan kemampuan normal tanaman untuk hidup dalam lingkungan fisik dan kimia yang menguntungkan (Semenov et al., 2017). Salah satu indikator yang mudah untuk menunjukkan subur tidaknya suatu tanah yaitu keberadaan humus.

Humus merupakan sisa-sisa makhluk hidup yang berfungsi untuk meningkatkan kesuburan tanah. Humus memodifikasi wara, tekstur, struktur, kelembaban, dan aerasi tanah (Gopalan, 2018). Tanah yang kaya akan humus biasanya berwarna gelap dan gembur. Humus mengandung nutrisi seperti nitrogen yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman.

Jenis tanah yang diolah Pak Sugeng merupakan tanah berpasir dan berbatu. Warnanya keabu-abuan khas pasir, dan jika dicangkul terdapat banyak kerikil di dalamnya. Tentu kesuburan tanah tersebut akan kurang maksimal jika dibandingkan dengan tanah yang gembur dan banyak humus. Pasir akan membuat air dan nutrisi yang ditambahkan mudah menguap dan terlindi. Dan batu dapat membuat penetrasi akar terganggu.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalah tersebut adalah dengan menggunakan cara manual untuk membersihkan kerikil. Kerikil dapat dibersihkan dengan diambil ketika pencangkulan tanah dilakukan. Kemudian menurut Syaikhu et al. (2016), untuk memperbaiki sifat tanah berpasir dapat dilakukan dengan penambahan biochar dan bahan pembenah tanah seperti seresah tanaman dan pupuk kandang ke dalam tanah. Selain dapat memperbaiki sifat tanah berpasir, penambahan bahan tersebut juga dapat meningkatkan nutrisi yang ada di dalam tanah.

Selanjutnya masalah yang dihadapi oleh Pak Sugeng adalah hama tanaman berupa lalat buah dan bateri pembusuk. Lalat buah gemar menyerang tanaman pare sehingga buahnya kecil dan menguning. Sedangkan bakteri pembusuk menyerang tanaman cabai sehingga beberapa cabai membusuk di pohon padahal belum sampai matang. Punya solusi untuk permasalahan hama ini? Boleh komen di bawah ya…

 

Daftar Pustaka

Gopalan, R. 2018. Getting To The Soul of Soil. Iwonder. India

Semenov, A. M., M. S. Sokolov, A. P. Glinushkin and V. I. Glazko. 2017. The health of soil ecosystem as self-maintenance and sustainable bioproductivity. Acta Phytopathologica et Entomologica Hungarica 52(1): 69-81

Syaikhu, A. H. F., Budi H. dan Didik S. 2016. Uji kemanfaatan biochar dan bahan pembenah tanah untuk perbaikan beberapa sifat fisik tanah berpasir serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan produksi tebu. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan 3(2): 345-357
 
Dokumentasi